Beranda > Tugas > Interaksi Manusia sebagai Makhluk Sosial

Interaksi Manusia sebagai Makhluk Sosial


KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kita semua sehingga tersusunlah makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “Interaksi Manusia sebagai Makhluk Sosial”.

Makalah ini berisikan tentang informasi Pengertian Manusia sebagai Makhluk Individu, Manusia sebagai makhluk sosial, serta hubungan antar manusia dan budaya dan bagaimana terjadinya Interaksi Sosial di masyarakat. Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang Manusia dan Interaksi sosialnya.

Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu diharapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, saya sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

Depok, 26 November 2012

Penyusun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar isi:

 

 

  1. Pengertian…………………………………………………………………………………………….4
  2. Faktor-faktor dasar penyebab interaksi manusia………………………………………..6
  3. Teori-teori hubungan interpersonal………………………………………………………….7
  4. Bentuk-bentuk Interaksi Sosial…………………………………………………………………9
  5. Aktualisasi manusia sebagai makluk sosial……………………………………………….10
  6. Keterkaitan Kontrol Sosial dengan Interaksi Sosial…………………………………….12

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengertian

Sebagai makhluk sosial manusia mempunyai dorongan atau motif untuk mengadakan hubungan dengan dirinya sendiri, sedangkan sebagai makhluk sosial manusia mempunyai dorongan untuk mengadakan hubungan dengan orang lain, manusia mempunyai dorongan sosial. Dengan adanya dorongan atau motif sosial pada manusia, maka manusia akan mencari orang lain untuk mengadakan hubungan atau untuk mengadakan interaksi. Dengan demikian maka akan terjadilah interaksi antara manusia satu dengan manusia yang lain.

Interaksi sosial adalah hubungan antar individu satu dengan individu lainnya. Individu satu dapat mempengaruhi yang lain begitu juga sebaliknya. (definisi secara psikologi sosial). Pada kenyataannya interaksi yang terjadi sesungguhnya tidak sesederhana kelihatannya melainkan merupakan suatu proses yang sangat kompleks. Interaksi terjadi karena ditentukan oleh banyak faktor termasuk manusia lain yang ada di sekitar yang memiliki juga perilaku spesifik.

Manusia selain sebagai makhluk individu, manusia juga disebut sebagai makhluk sosial. Artinya manusia memiliki kebutuhan dan kemampuan serta kebiasaan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia yang lain, selanjutnya interaksi ini berbentuk kelompok.

Kemampuan dan kebiasaan manusia berkelompok ini disebut juga dengan zoon politicon. Istilah manusia sebagi zoon politicon pertama kali dikemukakan oleh Aristoteles yang artinya manusia sebagai binatang politik. Manusia sebagai insan politik atau dalam istilah yang lebih populer manusia sebagi zoon politicon, mengandung makna bahwa manusia memiliki kemampuan untuk hidup berkelompok dengan manusia yang lain dalam suatu organisasi yang teratur, sistematis dan memiliki tujuan yang jelas, seperti negara. Sebagai insan politik, manusia memiliki nilai-nilai yang bisa dikembangkan untuk mempertahankan komunitasnya.

Argumen yang mendasari pernyataan ini adalah bahwa manusia sebagaimana binatang, hidupnya suka mengelompok. Hanya saja antara manusia dan binatang berbeda memiliki cara mengelompok yang berbeda, hewan mengandalkan naluri, sedangkan manusia berkelompok dilakukan melalui proses belajar dengan menggunakan akal pikirannya.

Sifat berkelompok pada manusia didasari pada kepemilikan kemampuan untuk berkomunikasi, mengungkapkan rasa dan kemampuan untuk saling bekerjasama. Selain itu juga adanya kepemilikan nilai pada manusia untuk hidup bersama dalam kelompok, antara lain: nilai kesatuan, nilai solidaritas, nilai kebersamaan dan nilai berorganisasi.

Di dalam interaksi sosial ada kemungkinan individu dapat menyesuaikan dengan yang lain, atau sebaliknya. Pengertian penyesuaian di sini dalam arti yang luas, yaitu bahwa individu dapat melebur diri dengan keadaan di sekitarnya, atau sebaliknya individu dapat mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan dalam diri individu, sesuai dengan apa yang diinginkan oleh individu yang bersangkutan.

Peter Berger mendefinisikan sosialisasi sebagai suatu proses di mana seorang anak belajar menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat (Berger, 1978:116).

Salah satu teori peranan dikaitkan sosialisasi ialah teori George Herbert Mead. Dalkam teorinya yang diuraikan dalam buku Mind, Self, and Society (1972). Mead menguraikan tahap-tahap pengembangan secara bertahap melalui interaksi dengan anggota masyarakat lain, yaitu melalui beberapa tahap-tahap play stage, game sytage, dan tahap generalized other.

Menurut Mead pada tahap pertama, play stage, seorang anak kecil mulai belajar mengambil peranan orang-orang yang berada di sekitarnya.

Pada tahap game stage seorang anak tidak hanya telah mengetahui peranan yang harus dijalankannya, tetapi telah pula mengetahui peranan yang harus dijalankan oleh orang lain dengan siapa ia berinteraksi.

Pada tahap ketiga sosialisasi, seseorang dianggap telah mampu mengambil peran-peran yang dijalankan orang lain dalam masyarakat yaitu mampu mengambil peran generalized others. Ia telah mampu berinteraksi denagn orang lain dalam masyarakat karena telah memahami peranannya sendiri serta peranan orang-orang lain dengan siapa ia berinteraksi.

Menurut Cooley konsep diri (self-concept) seseorang berkembang melalalui interaksinya dengan orang lain. Diri yang berkembang melalui interaksi dengan orang lain ini oleh Cooley diberi nama looking-glass self.

Cooley berpendapat looking-glass self terbentuk melalui tiga tahap. Tahap pertama seseorang mempunyai persepsi mengenaoi pandangan orang lain terhadapnya. Pada tahap berikut seseorang mempunyai persepsi mengenai penilain oreang lain terhadap penampilannya. Pada tahap ketiga seseorang mempunyai perasaan terhadap apa yang dirasakannya sebagai penilaian orang lain terhadapnya itu.

Pihak-pihak yang melaksanakan sosialisasi itu menurut Fuller and Jacobs (1973:168-208) mengidentifikasikan agen sosialisasi utama: keluarga, kelompok bermain, media massa, dan sistem pendidikan.
Faktor-faktor dasar penyebab interaksi manusia
a. Faktor imitasi, imitasi merupakan dorongan untuk meniru orang lain.
Menurut Tarde faktor imitasi ini merupakan satu-satunya faktor yang mendasari atau melandasi interaksi sosial. Seperti yang dikemukakan oleh Gerungan (1966:36). Imitasi tidak berlangsung secara otomatis melainkan dipengaruhi oleh sikap menerima dan mengagumi terhadap apa yang diimitasi. Untuk mengadakan imitasi atau meniru ada faktor psikologis lain yang berperan. Dengan kata lain imitasi tidak berlangsung secara otomatis, tetapi ada faktor lain yang ikut berperan, sehingga seseorang mengadakan imitasi. Bagaimana orang dapat mengimitasi sesuatu kalu orang yang bersangkutan tidak mempunyai sikap menerima terhadap apa yang diimitasi itu. Dengan demikian untuk mengimitasi sesuatu perlu adanya sikap menerima, ada sikap mengagumi terhadap apa yang diimitasi itu, karena itu imitasi tidak berlangsung dengan sendirinya. Contoh dari imitasi adalah bahasa; anak belajar berbahasa melalui peniruan terhadap orang lain selain itu mode-mode yang melanda masyarakat berkembang karena faktor imitasi.

b. Faktor sugesti

Adalah pengaruh psikis yang diterima tanpa adanya kritik Yang dimaksud dengan sugesti ialah pengaruh psikis, baik yang datang dari diri sendiri, maupun yang datang dari orang lain, yang pada umumnya diterima tanpa adanya kritik dari individu yang bersangkutan. Karena itu segesti dapat dibedakan (1) auto sugesti, yaitu sugesti terhadap diri sendiri, sugesti yang datang dari dalam diri individu yang bersangkutan, dan (2) hetero sugesti, yaitu sugesti yang datang dari orang lain. Misal sering seseorang merasa sakit-sakit saja, walaupun secara obyektif yang bersangkutan dalam keadaan sehat-sehat saja terapi karena auto-sugesti orang tersebut merasa tidak dalam keadaan sehat, maka ia merasa tidak sehat. Contoh untuk hetero sugesti adalah misal dalam bidang perdagangan, orang mempropagandakan dagangannya sedemikian rupa, hingga tanpa berfikir lebih lanjut orang termakan propaganda itu, dan menerima saja apa yang diajukan oleh pedagang yang bersangkutan.

Imitasi dan sugesti peranannya dalam interaksi hampir sama besarnya, namun berbeda. Dalam imitasi, orang yang mengimitasi keadaannya aktif sebaliknya dengan yang diimitasi dalam keadaan pasif. Sedangkan dalam sugesti orang dengan sengaja dan aktif memberikan pandangan, norma dan sebagainya agar orang lain menerima. Terjadinya proses sugesti mengikuti dalil sebagai berikut :

• Sugesti akan mudah diterima orang lain, bila daya kritisnya dihambat.

Orang yang kemampuan berpikirnya kurang atau kurang kritis akan mudah dipengaruhi. Daya kritis tersebut akan terhambat bila orang terkena stimulus yang bersifat emosional. Atau dalam keadaan fisik dan jiwa yang lelah. Misal orang yang telah berjam-jam rapat, ia sudah lelah baik fisik maupun psikologis , adanya keenganan untuk berfikir secara berat, sehingga biasanya dalam keadaan yang demikian orang akan mudah menerima pendapat, pandangan dari pihak lain, atau dengan kata lain orang yang bersangkutan akan mudah menerima sugesti dari pihak lain.

• Sugesti akan mudah diterima orang lain, bila kemampuan berpikirnya terpecah belah (dissosiasi).

Orang mengalami dissosiasi bila orang itu dalam keadaan kebingungan sehingga mudah menerima pengaruh orang lain. Secara psikologis orang yang dalam keadaan bingung berusaha mencari penyelesaian karena jiwanya tidak tenteram sehingga mudah dipengaruhi oleh pihak lain.

• Sugesti akan mudah diterima orang lain, bila materinya mendapat dukungan orang banyak (sugesti mayoritas). 

Dalam dalil ini orang akan mudah menrima pandangan, nporma, pendapat dan sebagainya bila hal tersebut telah mendapatkan dukungan mayoritas.

• Sugesti akan mudah diterima orang lain, bila yang memberikan materi adalah orang yang memiliki otoritas.

Walau materi yang diberikan sama tetapi kalau yang memberikan berbeda maka akan terdapat pula perbedaan dalam penerimaan. Orang yang memiliki otoritas akan cenderung mudah diterima karena tingkat kepercayaan yang tinggi

• Sugesti akan mudah diterima orang lain, bila pada orang yang bersangkutan telah ada pendapat yang mendahului yang searah.

Bila dalam diri orang ada pendapat yang telah mendahului dan searah dengan yang disugestikan maka umumnya orang akan mudah menerima pendapat tersebut

c. Faktor identifikasi.

 

Adalah dorongan untuk menjadi identik (sama ) dengan orang lain. . Identifikasi adalah suatu istilah yang dikemukakan oleh Freud, seorang tokoh dalam psikologi dalam, khususnya dalam psikoanalisis. Contoh anak-anak belajar norma-norma sosial dari hasil identifikasinya terhadap orang tua mereka. Di dalam identifikasi anak akan mengabil oper sikap-sikap ataupun norma-norma dari orang tuanya yang dijadikan tempat identifikasi itu. Dalam proses identifikasi ini seluruh norma-norma, cita-cita, sikap dan sebagainyadari orang tua sedapat mungkin dijadikan norma-norma, sikap-sikap dan sebagainya itu dari anak sendiri, dan anak menggunakan hal tersebut dalam perilaku sehari-hari.

d. Faktor Simpati.

Merupakan perasaan tertarik kepada orang lain. Oleh karena merupakan perasaan maka timbulnya atas dasar emosi. Dalam simpati orang merasa tertarik pada orang lain yang seakan-akan berlangsung dengan sendirinya, apa sebabnya tertarik sering tidak dapat memberikan penjelasan lebih lanjut. Lawan dari simpati adalah antipati yaitu merupakan penolakan atau bersifat negatif. Sedangkan empati adalah kecenderungan untuk ikut merasakan segala sesuatu yang sedang dirasakan orang lain (feeling with another person).

Teori-teori hubungan interpersonal
Ada 4 model hubungan interpersonal yaitu meliputi :

  1. Model pertukaran sosial(social exchange model)

Hubungan interpersonal diidentikan dengan suatu transaksi dagang. Orang berinteraksi karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Artinya dalam hubungan tersebut akan menghasilkan ganjaran (akibat positif) atau biaya (akibat negatif) serta hasil / laba (ganjaran dikurangi biaya).

b. Model peranan (role model)

Hubungan interpersonal diartikan sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang memainkan peranannya sesuai naskah yang dibuat masyarakat. Hubungan akan dianggap baik bila individu bertindak sesuai ekspetasi peranan (role expectation), tuntutan peranan (role demands), memiliki ketrampilan (role skills) dan terhindar dari konflik peranan. Ekspetasi peranan mengacu pada kewajiban, tugas dan yang berkaitan dengan posisi tertentu, sedang tuntutan peranan adalah desakan sosial akan peran yang harus dijalankan. Sementara itu ketrampilan peranan adalah kemampuan memainkan peranan tertentu.
c. Model permainan (games people play model)

Model menggunakan pendekatan analisis transaksional. Model ini menerangkan bahwa dalam berhubungan individu-individu terlibat dalam bermacam permaianan. Kepribadian dasar dalam permainan ini dibagi dalam 3 bagian yaitu :
• Kepribadian orang tua (aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang diterima dari orang tua atau yang dianggap sebagi orang tua).

• Kepribadian orang dewasa (bagian kepribadian yang mengolah informasi secara rasional)
• Kepribadian anak (kepribadian yang diambil dari perasaan dan pengalaman kanak-kanak yang mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreativitas dan kesenangan).

Pada interaksi individu menggunakan salah satu kepribadian tersebut sedang yang lain membalasnya dengan menampilkan salah satu dari kepribadian tersebut. Sebagai contoh seorang suami yang sakit dan ingin minta perhatian pada istri (kepribadian anak), kemudian istri menyadari rasa sakit suami dan merawatnya (kepribadian orang tua)

d. Model Interaksional (interacsional model)

Model ini memandang hubungann interpersonal sebagi suatu sistem . Setiap sistem memiliki sifat struktural, integratif dan medan. Secara singkat model ini menggabungkan model pertukaran, peranan dan permainan.

Bentuk-bentuk Interaksi Sosial

Bentuk-bentuk intraksi sosial dapat berupa kerja sama (cooperation), persaingan (competition), dan pertentangan (conflict). Suatu keadaan dapat dianggap sebagai bentuk keempat dari interaksi sosial, keempat pokok dari interaksi sosial tersebut tidak perlu merupakan kontinuitas dalam arti bahwa interaksi itu dimulai dengan adanya kerja sama yang kemudian menjadi persaingan serta memuncak menjadi pertiakain untuk akhirnya sampai pada akomodasi.

Gilin and Gilin pernah mengadakan pertolongan yang lebih luas lagi. Menurut mereka ada dua macam pross sosial yang timbul sebagaiu akibat adanya interaksi sosial, yaitu:

a. Proses Asosiatif, terbagi dalam tiga bentuk khusus yaitu akomodasi, asimilasi, dan akulturasi.

b. Proses Disosiatif, mencakup persaingan yang meliputi “contravention” dan pertentangan pertikain.

Adapun interaksi yang pokok proses-proses adalah

1)     Bentuk Interaksi Asosiatif

a. kerja sama (cooperation)

Kerja sama timbul karena orientasi orang perorangan terhadap kelompoknya dan kelompok lainnya. Sehubungan dengan pelaksanaan kerja sama ada tiga bentuk kerja sama, yaitu:

1. Bargainng, pelaksanaan perjanjian mengenai pertukaran barang dan jasa antara dua organisasi atau lebih.

2. Cooperation, proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasi, sebagai salah satu carta untuk menghindari terjadinya kegoncangan dalam stabilitas organisasi yang bersangkutan

3. Coalition, kombinasi antara dua organisasi atau lebih yang mempynyai tujuan yang sama.

b. Akomodasi (accomodation)

Adapun bentuk-bentuk akomodasi, di antaranya:

1. Coertion, yaitu suatu bentuk akomodasi yang prosesnya dilaksanakan karena adanya paksaan.

2. Compromise, suatu bentuk akomodasi, di mana pihak yang terlibat masing-masing mengurangi tuntutannya, agar tercapai suatu penyelesaian terhadap perselisihan yang ada.

3. Arbiration, suatu cara untuk mencapai compromise apabila pihak yang berhadapan tidak sanggup untuk mencapainya sendiri

4. Meditation, hampir menyerupai arbiration diundang pihak ke tiga yang retial dalam persoalan yang ada.

5. Conciliation, suatu usaha untuk mempertemukan keinginan pihak yang berselisih, bagi tercapainya suatu tujuan bersama.

6. Stelemate, merupakan suatu akomodasi di mana pihak-pihak yang berkepentingan mempunyai yang seimbang, berhenti pada titik tertentu dalam melakukan pertentangan.

7. Adjudication¸ yaitu perselisihan atau perkara di pengadilan.

2) Bentuk Interaksi Disosiatif

a. Persaingan (competition)

Persaingan adalah bentuk interaksi yang dilakukan oleh individu atau kelompok yang bersaing untuk mendapatkan keuntungan tertentu bagi dirinya dengan cara menarik perhatian atau mempertajam prasangka yang telah ada tanpa mempergunakan kekerasan.

b. Kontraversi (contaversion)

Kontraversi bentuk interaksi yang berbeda antara persaingan dan pertentangan. Kontaversi ditandai oleh adanya ketidakpastian terhadap diri seseorang, perasaan tidak suka yang disembunyikannya dan kebencian terhadap kepribadian orang, akan tetapi gejala-gejala tersebut tidak sampai menjadi pertentangan atau pertikaian.

c. Pertentangan (conflict)

Pertentangan adalah suatu bentuk interaksi antar individu atau kelompok sosial yang berusaha untuk mencapai tujuannya dengan jalan menentang pihak lain disertai ancaman atau kekerasan. Pertentangan memiliki bentuk khusus, antara lain: pertentangan pribadi, pertentangan rasional, pertentangan kelas sosial, dan pertentanfan politik.

Aktualisasi manusia sebagai makluk sosial

 

Aktualisasi manusia sebagai makluk sosial, tercermin dalam kehidupan berkelompok. Manusia selalu berkelompok dalam hidupnya. Berkelompok dalam kehidupan manusia adalah suatu kebutuhan, bahkan bertujuan. Tujuan manusia berkelompok adalah untuk meningkatkan kebahagiaan dan kesejahteraan hidupnya. Apapun bentuk kelompoknya, disadari atau tidak, manusia berkelompok mempunyai tujuan meningkatkan kebahagiaan hidupnya. Melalui kelompok manusia bisa memenuhi berbagai macam kebutuhan hidupnya, bahkan bisa dikatakan kebahagiaan dan keberdayaan hidup manusia hanya bisa dipenuhi dengan cara berkelompok. Tanpa berkelompok tujuan hidup manusia yaitu mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan tidak akan bisa tercapai.

Manusia merupakan makluk individu dan sekaligus sebagai makluk sosial. Sebagai makluk sosial manusia selalu hidup berkelompok dengan manusia yang lain. Perilaku berkelompok (kolektif) pada diri manusia, juga dimiliki oleh makluk hidup yang lain, seperti semut, lebah, burung bangau, rusa, dansebagainya, tetapi terdapat perbedaan yang esensial antara perilaku kolektif pada diri manusia dan perilaku kolektif pada binatang.

Kehidupan berkelompok (perilaku kolektif) binatang bersifat naluri, artinya sudah pembawaan dari lahir, dengan demikian sifatnya statis yang terbentuk sebagai bawaan dari lahir. Contoh bentuk rumah lebah, sejak dahulu sampai sekarang tidak ada perubahan, demikian halnya dengan rumah semut dan hewan lainnya. Sebaliknya perilaku kolektif manusia bersifat dinamis, berkembang, dan terjadi melalui proses belajar (learning process).

Berkelompok dalam kehidupan manusia juga merupakan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi. Beberapa kebutuhan hidup manusia yang dapat dipenuhi melalui kehidupan berkelompok antara lain:

komunikasi, keamanan, ketertiban, keadilan, kerjasama, dan untuk mendapatkan kesejahteraan. Kehidupan berkelompok manusia tercermin  dalam berbagai bentuk, mulai dari kelompok yang terorganisir maupun yang tidak terorganisir.

Kehendak untuk hidup berkelompok pada diri manusia merupakan suatu perilaku yang lahir secara spontan, relatif tidak terorganisasi, dan hampir tidak diduga sebelumnya, proses kelanjutannya tidak terencana, dan hanya tergantung kepada stimulasi timbal balik yang muncul dikalangan para pelakunya. Terhadap pernyataan ini, sering ditemukan adanya pengelompokkan manusia yang semula teratur dan tertib, tiba-tiba berubah tanpa rencana, tanpa sebab, dan tanpa arah menjadi kerumunan yang menimbulkan kekacauan sosial dan pengrusakan.

Seperti kasus demonstrasi, suporter sepakbola, dan tawuran yang sering terjadi di kalangan pelajar atau masyarakat baik di Indonesia maupun di negara-negara diluar Indonesia.

Perilaku berkelompok (perilaku kolektif) pada manusia karena terjadi melalui proses belajar menyebabkan munculnya beragam jenis, diantaranya: perilaku kerumunan (crowd), perilaku massa, gerakan sosial, perilaku dalam bencana, gerombolon, kericuhan (panics), desasdesus, keranjingan, gaya (fad), model (fashions), propaganda, pendapat umum, dan revolusi.

Manusia memiliki unsur-unsur keharusan biologis, yang terdiri dari:

  • Dorongan untuk makan
  • Dorongan untuk mempertahankan diri
  • Dorongan untuk melangsungkan jenis

Dari tahapan diatas menggambarkan bagaimana individu dalam perkembangannya sebagai seorang makhluk sosial dimana antar individu merupakan satu komponen yang saling ketergantungan dan membutuhkan. Sehingga komunikasi antar masyarakat ditentukan oleh peran oleh manusia sebagai makhluk sosial.

Dalam perkembangannya manusia juga mempunyai kecenderungan sosial untuk meniru dalam arti membentuk diri dengan melihat kehidupan masyarakat yang terdiri dari :

  • penerimaan bentuk-bentuk kebudayaan, dimana manusia menerima bentuk-bentuk pembaharuan yang berasal dari luar sehingga dalam diri manusia terbentuk sebuah pengetahuan.
  • penghematan tenaga dimana ini adalah merupakan tindakan meniru untuk tidak terlalu menggunakan banyak tenaga dari manusia sehingga kinerja mnausia dalam masyarakat bisa berjalan secara efektif dan efisien.

Pada umumnya hasrat meniru itu kita lihat paling jelas di dalam ikatan kelompok tetapi juga terjadi didalam kehidupan masyarakat secara luas. Dari gambaran diatas jelas bagaimana manusia itu sendiri membutuhkan sebuah interaksi atau komunikasi untuk membentuk dirinya sendiri malalui proses meniru. Sehingga secara jelas bahwa manusia itu sendiri punya konsep sebagai makhluk sosial.

Yang menjadi ciri manusia dapat dikatakan sebagai makhluk sosial adalah adanya suatu bentuk interaksi sosial didalam hubugannya dengan makhluk sosial lainnya yang dimaksud adalah dengan manusia satu dengan manusia yang lainnya. Secara garis besar faktor-faktor personal yang mempengaruhi interaksi manusia terdiri dari tiga hal yakni :

  • Tekanan emosional. Ini sangat mempengaruhi bagaimana manusia berinteraksi satu sama lain.
  • Harga diri yang rendah. Ketika kondisi seseorang berada dalam kondisi manusia yang direndahkan maka akan memiliki hasrat yang tinggi untuk berhubungan dengan orang lain karena kondisi tersebut dimana orang yang direndahkan membutuhkan kasih saying orang lain atau dukungan moral untuk membentuk kondisi seperti semula.
  • Isolasi sosial. Orang yang terisolasi harus melakukan interaksi dengan orang yang sepaham atau sepemikiran agar terbentuk sebuah interaksi yangharmonis.

Keterkaitan Kontrol Sosial dengan Interaksi Sosial

Kalau kita bicara megenai interaksi, maka setidaknya kita akan bicara mengenai dua orang. Oleh Simmel hubungan yang terjadi antara dua orang ini dikatakan sebagai kelompok dyadic (kelompok dua-an). Dalam kelompok ini, kondisi yang terjadi adalah kemungkinan untuk terputusnya interaksi menjadi sangat besar. Bayangkan jika Anda berinteraksi dengan salah satu teman Anda, kemudian teman Anda pergi meninggalkan Anda, maka Anda hanya akan tinggal sendiri dan tidak bisa lagi melakukan interaksi. Lain halnya bila interaksi yang Anda lakukan terjadi bersama tiga orang teman Anda. Jika salah satu pergi meninggalkan Anda, maka interaksi masih bisa dilakukan dengan rekan Ada yang lain yang masih tinggal. Untuk itulah Simmel mencoba mengukur mutu suatu kelompok dengan mendasarkan pada jumlah anggota kelompok. Semakin besar jumlah anggota kelompok yang ada, maka kelompok itu dapat dikatakan memiliki mutu yang semakin tinggi. Namun hal itu tentu saja masih diperdebatkan, karena terkesan terlalu menyederhanakan suatu masalah.

Lebih lanjut Simmel juga menegaskan bahwa dalam kelompok tryadic (kelompok tiga- an) ada beberapa macam, yaitu:

  1. Kelompok dimana orang ketiga berperan sebagai mediator. Orang ketiga ini akan menjadi penengah ketika antara dua orang dalam kelompok yang lain saling bertengkar.
  2. Kelompok dimana orang ketiga berperan sebagai tertius gaudiens. Orang ketiga ini akan menjadi senang ketika antara dua orang dalam kelompok yang lain saling bertengkar, karena ia akan dapat mengambil keuntungan dari pertengkaran tersebut.
  3. Kelompok dimana orang ketiga berperan sebagai devide et impera. Orang ketiga ini akan menjadi “provokator” atau selalu mengadu domba antar anggota kelompok lainnya, agar mereka bertengkar.

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana interaksi yang terjadi antara dua orang atau lebih atau lebih jauh lagi di dalam masyarakat? Untuk membahas lebih jauh ada baiknya jika kita menggunakan konsep yang dikatakan sebagai kontrol sosial. Jika kita bicara mengenai kontrol sosial, maka kita setidaknya harus mengetahui terlebih dahulu mengenai 3 pandangan dalam sosiologi, dalam memandang keberadaan individu dan masyarakat. Masing-masing pandangan berbeda dalam menempatkan kontrol sosial dan lebih jauh lagi dalam menempatkan interaksi antara anggotanya. Mari kita lihat satu persatu. .

  • Golongan yang memberi penekanan pada masyarakat, memandang bahwa masyarakat mempengaruhi individu dalam melakukan interaksinya. Golongan ini dipelopori oleh Durkheim yang memperkenalkan konsepnya yang terkenal, yaitu fakta sosial. Masyarakat mempengaruhi individu, dengan kata lain ada kontrol sosial yang ada di dalam masyarakat yang mempengaruhi interaksi yang terjadi antara individu. Kontrol sosial didefinsikan sebagai cara yang dipakai masyarakat untuk mengendalikan si penyimpang pada jalur yang sudah diyakini masyarakat sebagai garis yang benar. Dengan demikian, dalam melakukan interaksinya, individu-individu dikontrol oleh suatu di luar dirinya, yang kita katakan sebagai kontrol sosial. Ambil contoh berikut sebagai ilustrasi. Bayangkan Anda sekarang ini berada di rumah. Anda ingin berinteraksi dengan orang tua. Maka Anda diharuskan untuk menunggu orang tua Anda bangun pagi, baru Anda diperbolehkan bicara. Anda dilarang untuk membangunkan orang tua. Nah ada kontrol sosial yang mengatur Anda dalam berinteraksi di rumah. Kemudian Anda keluar rumah dan pergi ke kampus. Di lingkungan kampus, kembali Anda dihadapkan pada kontrol sosial yang berbeda dengan apa yang Anda hadapi di rumah. Dan lagi-lagi Anda dihadapkan pada seperangkat aturan yang mengkontrol interaksi Anda dengan orang lain. Misalnya saja di dalam ruang kuliah Anda tidak boleh bicara dengan rekan Anda di sebelah. Anda tidak boleh makan di ruang kuliah, dan sebagainya. Semua itu merupakan kontrol sosial yang mempengarui interaksi yang Anda lakukan. Dengan demikian terlihatlah bahwa masyarakat (dalam hal ini digambarkan dengan kontrol sosial) mempengaruhi individu (digambarkan dengan interaksi).

Hal ini menjadi semakin jelas bila kita mengkaitkan interaksi dengan stratifikasi. Dalam stratifikasi kita mengenal adanya pembedaan kelas, dimana dalam kelas yang berbeda, maka interaksi yang ada juga akan berbeda. Sebagai ilustrasi, Anda bisa saja mengatakan dengan gaya prokem kepada rekan Anda dengan memakai kata-kata “lu, gue”, sedangkan hal yang sama tidak mungkin Anda lakukan bila Anda berhadapan dengan dosen. Nah kondisi ini menggambarkan bagaimana interaksi yang terjadi antar individu dipengaruhi oleh kontrol sosial yang ada di dalam masyarakat.

  • Golongan yang kedua, memberikan penekanan yang berlawanan dengan golongan pertama. Golongan ini dipelopori oleh Weber, yang memperkenalkan konsep tentang “meaning” atau makna. Bukan masyarakat yang memegang peranan penting, namun justru individulah yang memegang peran sentral. Individu memiliki kebebasan dalam melakukan interaksi. Memang golongan ini mengakui bahwa ada sesuatu di luar diri manusia yang mempengaruhi individu dalam berinteraksi, namun individu memiliki kebebasan untuk menentukan sendiri apa yang akan dia lakukan. Jika Durkheim menganggap reaksi yang diberikan individu berbeda dengan apa yang ada di masyarakat, maka dikatakan sebagai penyimpangan, namun lain halnya dengan Weber, yang menganggap perbedaan reaksi yang diberikan merupakan suatu hal yang wajar dan bukan penyimpangan, karena manusia merupakan individu yang unik. Dalam pandangan Weber kontrol sosial tidak terlihat secara jelas dalam mempengaruhi interaksi. Yang ditekankan dalam golongan ini untuk melakukan interaksi adalah adanya kesamaan arti terhadap apa yang dikomunikasikan oleh individu. Interaksi tentunya tidak akan berjalan sebagaimana mestinya jika orang-orang yang saling berinteraksi tidak memiliki kesamaan arti. Bayangkan jika Anda berinteraksi dengan orang Jawa kuno, yang sangat kolot. Dalam interaksi tersebut Anda menunjuk orang tersebut dengan jari telunjuk (sesuatu hal yang wajar dalam masyarakat umum). Yang terjadi kemudian adalah ia akan menjadi marah, karena dalam adat orang Jawa tersebut, tindakan yang Anda lakukan adalah tidak sopan. (untuk menunjuk sesorang dengan status yang lebih tinggi biasanya digunakan ibu jari dan bukan jari telunjuk). Nah terlihat jelas bukan, bahwa kesamaan arti merupakan suatu hal yang krusial dalam melakukan interaksi. Lebih jelas lagi jika Anda mencoba menjawab pertanyaan ini, “mungkinkah Anda berbicara dengan suku Indian di Amerika yang hanya bisa berbahasa Indian?”
  • Golongan yang ketiga boleh dikatakan golongan yang mencoba menjembatani kedua golongan yang berlawanan penekanan tersebut. Golongan ini dipelopori oleh Berger, yang memperkenalkan konsep eksternalisasi dan internalisasi. Untuk golongan ini terlihat jelas bagaimana proses interaksi berlangsung, dan bagaimana kontrol sosial mempengaruhi proses interaksi tersebut. Mari kita lihat bersama-sama. Individu sebagai mahluk sosial, memiliki beberapa kebutuhan yang hanya dapat ia terima melalui orang lain. Individu perlu berinteraksi dengan sesama. Pada saat yang bersamaan individu melakukan suatu proses yang oleh Berger dikatakan sebagai eksternalisasi. Konsep ini didefinisikan sebagai upaya mengungkapkan apa yang ada di dalam diri individu. Proses ini menggambarkan apa yang diungkapkan oleh Weber, bahwa individu bebas mengungkapkan apa yang ada di dalam dirinya. Apa yang diungkapkan oleh individu setelah melalui proses pada akhirnya akan menjadi sesuatu yang mapan, sesuatu yang sudah diakui secara bersama oleh suatu komunitas, yang oleh Berger dikatakan bahwa pada saat itu telah terjadi objektivikasi. Kemudian setelah melalui proses berikutnya si individu justru berperilaku sesuai dengan apa yang sudah mapan, yang oleh Berger dikatakan sebagai internalisasi, yaitu menyerap apa yang ada di luar individu), lalu dimana proses interaksi berlangsung? Boleh dikata proses interaksi bisa berlangsung pada saat individu melakukan eksternalisasi, pada saat individu melakukan objektivikasi, dan pada saat individu melakukan internalisasi. Dengan kata lain apa yang dilakukan oleh individu, berada dalam kerangka interaksi individu dengan lingkungan sekitarnya.
Iklan
Kategori:Tugas Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

silahkan tinggalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Lepas Banget Blog

Biar lega lepasin aja semuanya.. ya semuanya, kecuali pakaian kalian :D

keep smile :)

Just another WordPress.com site

Wahyu Chandra

Sedikit Cerita Tentang Gue

wawan's blog dunitro

tempat belajar dan mempelajari

Fiazku

Kecerdasan Manusia Bodoh

Mariku blog

popularity of Japanese

KAMI DARI SEMUA : IndonesiAn BlogWalker

Blogging... Way I Get Relax a little while Learning     

OdiDoodle

Illustrator and comic artist based in Bandung | Let's make that frown upside down

%d blogger menyukai ini: